Apa kabar semuanya?? sorry ya gw baru bisa posting lagi hehehe
soalnya sekarang gw udah kerja di salah satu perusahaan Digital printing di daerah Kemang, jadi waktu gw lebih banyak tersita sama pekerjaan gw.
Oke, hari ini gw bakalan posting cerpen gw yang ada di buku Anthology Cerpen 'Kepompong dan kupu-kupu Cinta' biar kalian yang kemarin belum sempet beli bukunya bisa baca jg hehe.
Now, here goes the story.......
PEMBAWA PESAN (Blog Version)
Hari
ini adalah hari yang paling indah yang pernah Dewi rasakan selama hidupnya, tak
pernah terlintas sedikitpun dibenaknya bahwa Rama kekasihnya akan melingkarkan
cincin di jari manisnya dan berkata “mau kah kamu menjadi istriku?”.Mungkin
bagi sebagian orang itu hal yang sudah biasa, tapi tidak untuk Dewi.
“Aku
mau mencari ayahku bu!” lalu diantara perdebatan ibu dan anak tiba-tiba
terdengar suara dentingan bel sepeda kumbang tua yang sudah agak karat, Dewi
pun segera berlari keluar rumah, dia tau persis siapa yang datang.
“eh
pak pos, mana surat dari ayah?” sapa Dewi sambil mengembangkan senyumnya.
“ini
wi, hati-hati ya bukanya, jangan sampai kertasnya sobek”
“siap pak hehe….” Lalu
Dewi kembali berlari memasuki rumahnya untuk segera membuka surat yang setiap
tahun ayahnya kirimkan tanpa alamat, setiap tanggal 17 April Dewi selalu
menanti datangnya kado ulang tahun yang paling dia inginkan, mengalahkan rasa
inginnya akan sebuah mobil sekalipun.
Peristiwa terus berlangsung
hingga hari ini, hari lamaran yang berlangsung dirumah Dewi, Rma kini membawa
serta keluarganya untuk meminang Dewi, mereka memang sudah hamper tiga tahun
menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.Kisah pertemuan mereka memang agak
sedikit aneh, kisah cinta mereka terjalin hanya karena sebuah kamera yang Rama
pinjamkan pada Dewi untuk mengerjakan sebuah tugas dari dosen ilmu jurnalistik.
“Bu sekarang Dewi udah
mau nikah, Dewi gak mungkin nikah tanpa restu dari ayah, tolong kasih tau Dewi
dimana sekarang ayah sekarang tinggal?”
Tak terasa suara Dewi
mulai tercekat rasa haru, derai air matanya pun tak tertahan lagi.
“Cuma surat yang tiap
tahun ayah kasih, mungkin bertahun-tahun Dewi masih bias terima, tapi sekarang
Dewi mau nikah bu!”
Sang ibu tak bisa
bekata apa-apa, air matanya pun tak kalah deras mengalir menyusuri lekuk
pipi-nya yang mulai keriput makan usia-nya yang sudah berkepala empat.
“Ibu hanya punya ini”
sang ibu memberikan sebuah kartu pos bertuliskan alamat yang tulisannya pun
mulai pudar dimakan waktu.
“ini alamat terakhir
yang ayahmu berikan sebelum dia meninggalkan kita berdua”
Setelah hujan deras
mengguyur kedua pipi mereka, anak dan ibu itu lantas berpelukan erat, mungkin
mereka sedang berbagi rasa sakit, rasa rindu, amarah, atau bahkan cinta kepada
sosok pria yang telah begitu tega meninggalkan mereka hidup tanpa sosok ayah
dan suami yang pada dasarnya setiap orang merasakannya.
Keesokan harinya surat
ke 23 datang, pak pos yang mengantar surat penting itu pin disambut dengan
senyuman hangatnya Dewi yang sejak pagi duduk didepan teras rumah sengaja
menunggu kedatangan lelaki yang hamper berumur 50 tahun itu.
“ini wi” sang pembawa
pesan menyodorkan surat yang paling penting untuk Dewi tersebut
“udah yang 23 ya? Gak
terasa ya” kenang lelaki tersebut
“iya pak, eh pak aku
mau nikah lho” Dewi membagi berita bahagianya kepada tukang post tersebut.
“iya saya sudah tau wi,
selamat ya, kapan persisnya wi?” Tanya pak pos.
“itu dia pak, saya
belum mau menikah sebelum bertemu ayah dan meminta restunya”
“ayahmu pasti akan
merestui wi, tanpa kamu minta sekalipun”
“aah bapak suka sok tau
nih, oh iya bapak tau alamat ini gak” Tanya Dewi sambil memperlihatkan kartu
pos yang semalam dikasih oleh ibunya.
“oh ini sih dibandung
wi”
“bener bapak tau? Makasih
ya pak, yaudah aku masuk dulu ya, gak sabar nih mau baca surat dari ayah”
Lalu Dewi meninggalkan
pak pos tersebut yang masih terpaku menatapnya hingga menghilang dibalik pintu
kayu bercat khas warna kayu yang telah lumayan tua.
“Oh ini ternyata kantor
pos yaang” kata Rama setelah mencocokan alamat yang ada di kartu pos tersebut.
“oh ini tempatnya, duuh
aku deg-degan nih, apa bener ya ayah ada disini?”
“ya udah kita pastiin
aja dulu, yuk masuk” ajak Rama.
“Permisi pak, saya mau
ketemu sama pak wahyu ada?”
“Wahyu??” jawab petugas
kantor pos itu sedikit berfikir
“ooh pak wahyu yang
sudah agak tua itu ya? Dulu dia memang kerja disini, tapi itu sudah lama sekali
dia dipindah tugaskan, saya kurang tau sekarang dia kerja dimana, tapi dulu
rumahnya dekat sini, kamu nanti ikuti jalan setapak belakang kantor ini
saja,diujung jalan itu rumahnya, tapi saya juga gak tau dia masih disitu ataua
nggak”
Merekapun segera
mendatangi rumah tersebut, namun setelah mereka sampai disana mereka hanya
bertemu seorang nenek yang tinggal sendiri dirumah itu,ada sedikit ekspresi
terkejut yang diperlihatkan nenek tersebut, tanpa berkata apapun nenek tersebut
lalu mengusir Dewi dan Rama, entah apa yang nenek itu pikirkan hingga dia
begitu tak ingin diganggu.
“Ram tadi kamu lihat
gak foto yang ada di dinding rumah itu? Aku seperti kenal deh sama orang yang
ada di foto itu”
“Aah itu Cuma
halusinasi kamu aja, soalnya kamu terlalu ingin ketemu sama ayah, sudah ayo
kita pulang” ajak Rama.
Diperjalanan pulang
dewi hanya terdiam, memperlihatkan wajah kecewa, Rama tak tau harus berbuat
apa, namun dia berusaha menenangkan Dewi.
“kamu gak usah
khawatir, kita pasti bakal ketemu sama ayah kamu, percaya deh”
Rama tak pernah lelah
menghibur Dewi, dia memang pria yang dikirim tuhan untuk Dewi yang dalam
hidupnya tak pernah percaya pada laki-laki apa lagi cinta, semua karna masla
launya yang begitu membuatnya trauma akan pria.
“Sudahlah! Aku capek,
aku gak peduli lagi sama ayahku!!” lambat lau ekspresi kemarahan Dewi berubah
menjadi linangan air mata, tentu dia tak sungguh-sungguh berfikir seperti itu,
Rama hanya bisa terdiam.
Hari ini tepat 17
april, hari dimanabiasanya sang pembawa pesan selalu dating pada Dewi dan
memberikan surat yang dituliskan khusus untuk dirinya.Dari pagi Dewi dengan setia
duduk termenung menanti sang pembawa pesan dating untuknya, ibunya pun cemas
karna belum sedikit pun makanan yang masuk ke tubuh Dewi, Seakan tak peduli
Dewi tetap terdiam dan setia menanti datangnya sang pembawa pesan yang sangat
penting untuk dirinya itu.Tapi hari itu penantian Dewi sia-sia, sang pembawa
pesan tak datang untuk mengantarkan surat ke 24 dalam hidupnya, surat yang
begitu penting untuknya.Saat malam menjelang Dewi hanya mengurung diri dikamar,
melampiaskan rasa amarahnya hanya dengan termenung, sesekali jarinya yang
lentik menyapu kelopak matanya yang basah, sang pembawa pesan mangkir dari
tugas wajibnya.
Keesokan harinya Dewi
ditemani oleh Rama berniat menyambangi kantor pos dengan niat menanyakan
keberadaan surat yang tiap tahun tidak pernah telat datangnya dan mangkirnya
sang pembawa pesan dari tugas pentingnya itu, saat Dewi berpamitan dan
mengutarakan niatnya kepada ibunya, tiba-tiba sang ibu melarang Dewi pergi,
entah apa alasannya, namun terlihat jelas dimata sang ibu bahwa ada satu hal
yang penting yang tak bisa dia utarakan pada anaknya.
“kamu bakalan kecewa
kalau kamu tetap mencari surat itu”
Kata sang ibu dengan
mata berkaca-kaca, menyiratkan sesuatu yang dalam telah ia sampaikan pada anak
semata wayangnya itu.
Namun Dewi tak peduli
larangan sang ibu, dia tetap pergi ke kantor pos untuk mencari surat tersebut,
dengan penuh rasa penasaran dia bertanya pada petugas kantor pos tentang surat
tersebut, namun hasilnya nihil, tak ada surat dari sang ayah untuknya, lalu dia
menanyakan tentang petugas pos yang biasanya datang mengantarkan surat tersebut
yang baru dia sadari ternyata dia tidak pernah tau siapa namanya setelah 24
tahun lelaki mengantarkan surat untuk dirinya.
“dia itu namanya pak
yudi, tinggalnya di daerah kebayoran lama, ini alamatanya mba, mungkin dia tau
tentang surat mba”
Menyusuri khawasan
kebayoran lama yang padat penduduk, Dewi dan Rama merasa prihatin dengan
kehidupan sang pembawa pesan tersebut yang telah mengabdi berpuluh-puluh tahun,
namun kehidupannya kehidupannya tak sepadan dengan pengabdiannya.Kini Dewi dan
Rama tiba di sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk jalan dua orang dewasa,
Jalan tersebut kini tengah di penuhi para pelayat, bendera kuning pun berkibar
di ujung gang, suasana duka begitu kental menyelimuti kawasan padat penduduk
tersebut.Dewi dan Rama pun kebingungan dengan apa yang tengah terjadi disini,
begitu mereka sampai di keramaian Dewi tersentak melihat foto yang sama seperti
yang ada dirumah nenek dibandung setahun yang lalu, segera ia menerobos ke
dalam keramaian para pelayat, kini dia tau persis siapa yang ada di foto
tersebut.
Sang pembawa pesan
tengah terbujur kaku dipembaringannya yang terakhir, ditutup kain batik dan
beralasankan tikar daun pandan, ruangan riuh oleh lantunan ayat-ayat suci
Al-Qur’an yang dibacakan oleh para pelayat.Tiba-tiba seorang nenek merangkul
tubuh dewi yang tengah terduntuk haru berlinang air mata, nenek yang sama
dengan yang ada di bandung, nenek yang sama yang mempunyai foto pria berseragam
Pos Indonesia dengan senyum hangatnya.
“ini surat ke 24
untukmu Dewi, ini surat yang terakhir yang ayahmu tulis untukmu, karna kini ia
tengah kau tangisi”
Mata Dewi yang tengah
menyucurkan air mata tiba-tiba terbelaklak tanpa segan menatap sang nenek.
“aku nenekmu”
Oke itu tadi cerpen gw yang gw masukin di dalam buku Anthology cerpen gw dan temen-temen penulis lainnya, semoga yang kemarin beli masuk surga dan yang minjem semoga Allah memberikan rezeki yang lebih biar bisa beli bukunya hehehe.
Oke, gw mau lanjut kerja lagi deh ya, ngejar Deadline hahaha....
See next time folks........
:)
:)