Senin, 24 September 2012

'PEMBAWA PESAN' (Blog Version)

Hi Guys!!! :)
Apa kabar semuanya?? sorry ya gw baru bisa posting lagi hehehe
soalnya sekarang gw udah kerja di salah satu perusahaan Digital printing di daerah Kemang, jadi waktu gw lebih banyak tersita sama pekerjaan gw.

Oke, hari ini gw bakalan posting cerpen gw yang ada di buku Anthology Cerpen 'Kepompong dan kupu-kupu Cinta' biar kalian yang kemarin belum sempet beli bukunya bisa baca jg hehe.

Now, here goes the story.......

PEMBAWA PESAN (Blog Version)



Hari ini adalah hari yang paling indah yang pernah Dewi rasakan selama hidupnya, tak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya bahwa Rama kekasihnya akan melingkarkan cincin di jari manisnya dan berkata “mau kah kamu menjadi istriku?”.Mungkin bagi sebagian orang itu hal yang sudah biasa, tapi tidak untuk Dewi.


“Aku mau mencari ayahku bu!” lalu diantara perdebatan ibu dan anak tiba-tiba terdengar suara dentingan bel sepeda kumbang tua yang sudah agak karat, Dewi pun segera berlari keluar rumah, dia tau persis siapa yang datang.
“eh pak pos, mana surat dari ayah?” sapa Dewi sambil mengembangkan senyumnya.
“ini wi, hati-hati ya bukanya, jangan sampai kertasnya sobek”
“siap pak hehe….” Lalu Dewi kembali berlari memasuki rumahnya untuk segera membuka surat yang setiap tahun ayahnya kirimkan tanpa alamat, setiap tanggal 17 April Dewi selalu menanti datangnya kado ulang tahun yang paling dia inginkan, mengalahkan rasa inginnya akan sebuah mobil sekalipun.

Peristiwa terus berlangsung hingga hari ini, hari lamaran yang berlangsung dirumah Dewi, Rma kini membawa serta keluarganya untuk meminang Dewi, mereka memang sudah hamper tiga tahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.Kisah pertemuan mereka memang agak sedikit aneh, kisah cinta mereka terjalin hanya karena sebuah kamera yang Rama pinjamkan pada Dewi untuk mengerjakan sebuah tugas dari dosen ilmu jurnalistik.

“Bu sekarang Dewi udah mau nikah, Dewi gak mungkin nikah tanpa restu dari ayah, tolong kasih tau Dewi dimana sekarang ayah sekarang tinggal?”
Tak terasa suara Dewi mulai tercekat rasa haru, derai air matanya pun tak tertahan lagi.

“Cuma surat yang tiap tahun ayah kasih, mungkin bertahun-tahun Dewi masih bias terima, tapi sekarang Dewi mau nikah bu!”

Sang ibu tak bisa bekata apa-apa, air matanya pun tak kalah deras mengalir menyusuri lekuk pipi-nya yang mulai keriput makan usia-nya yang sudah berkepala empat.

“Ibu hanya punya ini” sang ibu memberikan sebuah kartu pos bertuliskan alamat yang tulisannya pun mulai pudar dimakan waktu.
“ini alamat terakhir yang ayahmu berikan sebelum dia meninggalkan kita berdua”

Setelah hujan deras mengguyur kedua pipi mereka, anak dan ibu itu lantas berpelukan erat, mungkin mereka sedang berbagi rasa sakit, rasa rindu, amarah, atau bahkan cinta kepada sosok pria yang telah begitu tega meninggalkan mereka hidup tanpa sosok ayah dan suami yang pada dasarnya setiap orang merasakannya.
Keesokan harinya surat ke 23 datang, pak pos yang mengantar surat penting itu pin disambut dengan senyuman hangatnya Dewi yang sejak pagi duduk didepan teras rumah sengaja menunggu kedatangan lelaki yang hamper berumur 50 tahun itu.

“ini wi” sang pembawa pesan menyodorkan surat yang paling penting untuk Dewi tersebut
“udah yang 23 ya? Gak terasa ya” kenang lelaki tersebut
“iya pak, eh pak aku mau nikah lho” Dewi membagi berita bahagianya kepada tukang post tersebut.
“iya saya sudah tau wi, selamat ya, kapan persisnya wi?” Tanya pak pos.
“itu dia pak, saya belum mau menikah sebelum bertemu ayah dan meminta restunya”
“ayahmu pasti akan merestui wi, tanpa kamu minta sekalipun”
“aah bapak suka sok tau nih, oh iya bapak tau alamat ini gak” Tanya Dewi sambil memperlihatkan kartu pos yang semalam dikasih oleh ibunya.
“oh ini sih dibandung wi”
“bener bapak tau? Makasih ya pak, yaudah aku masuk dulu ya, gak sabar nih mau baca surat dari ayah”
Lalu Dewi meninggalkan pak pos tersebut yang masih terpaku menatapnya hingga menghilang dibalik pintu kayu bercat khas warna kayu yang telah lumayan tua.

“Oh ini ternyata kantor pos yaang” kata Rama setelah mencocokan alamat yang ada di kartu pos tersebut.
“oh ini tempatnya, duuh aku deg-degan nih, apa bener ya ayah ada disini?”
“ya udah kita pastiin aja dulu, yuk masuk” ajak Rama.

“Permisi pak, saya mau ketemu sama pak wahyu ada?”
“Wahyu??” jawab petugas kantor pos itu sedikit berfikir
“ooh pak wahyu yang sudah agak tua itu ya? Dulu dia memang kerja disini, tapi itu sudah lama sekali dia dipindah tugaskan, saya kurang tau sekarang dia kerja dimana, tapi dulu rumahnya dekat sini, kamu nanti ikuti jalan setapak belakang kantor ini saja,diujung jalan itu rumahnya, tapi saya juga gak tau dia masih disitu ataua nggak”

Merekapun segera mendatangi rumah tersebut, namun setelah mereka sampai disana mereka hanya bertemu seorang nenek yang tinggal sendiri dirumah itu,ada sedikit ekspresi terkejut yang diperlihatkan nenek tersebut, tanpa berkata apapun nenek tersebut lalu mengusir Dewi dan Rama, entah apa yang nenek itu pikirkan hingga dia begitu tak ingin diganggu.
“Ram tadi kamu lihat gak foto yang ada di dinding rumah itu? Aku seperti kenal deh sama orang yang ada di foto itu”
“Aah itu Cuma halusinasi kamu aja, soalnya kamu terlalu ingin ketemu sama ayah, sudah ayo kita pulang” ajak Rama.

Diperjalanan pulang dewi hanya terdiam, memperlihatkan wajah kecewa, Rama tak tau harus berbuat apa, namun dia berusaha menenangkan Dewi.
“kamu gak usah khawatir, kita pasti bakal ketemu sama ayah kamu, percaya deh”
Rama tak pernah lelah menghibur Dewi, dia memang pria yang dikirim tuhan untuk Dewi yang dalam hidupnya tak pernah percaya pada laki-laki apa lagi cinta, semua karna masla launya yang begitu membuatnya trauma akan pria.
“Sudahlah! Aku capek, aku gak peduli lagi sama ayahku!!” lambat lau ekspresi kemarahan Dewi berubah menjadi linangan air mata, tentu dia tak sungguh-sungguh berfikir seperti itu, Rama hanya bisa terdiam.

Hari ini tepat 17 april, hari dimanabiasanya sang pembawa pesan selalu dating pada Dewi dan memberikan surat yang dituliskan khusus untuk dirinya.Dari pagi Dewi dengan setia duduk termenung menanti sang pembawa pesan dating untuknya, ibunya pun cemas karna belum sedikit pun makanan yang masuk ke tubuh Dewi, Seakan tak peduli Dewi tetap terdiam dan setia menanti datangnya sang pembawa pesan yang sangat penting untuk dirinya itu.Tapi hari itu penantian Dewi sia-sia, sang pembawa pesan tak datang untuk mengantarkan surat ke 24 dalam hidupnya, surat yang begitu penting untuknya.Saat malam menjelang Dewi hanya mengurung diri dikamar, melampiaskan rasa amarahnya hanya dengan termenung, sesekali jarinya yang lentik menyapu kelopak matanya yang basah, sang pembawa pesan mangkir dari tugas wajibnya.

Keesokan harinya Dewi ditemani oleh Rama berniat menyambangi kantor pos dengan niat menanyakan keberadaan surat yang tiap tahun tidak pernah telat datangnya dan mangkirnya sang pembawa pesan dari tugas pentingnya itu, saat Dewi berpamitan dan mengutarakan niatnya kepada ibunya, tiba-tiba sang ibu melarang Dewi pergi, entah apa alasannya, namun terlihat jelas dimata sang ibu bahwa ada satu hal yang penting yang tak bisa dia utarakan pada anaknya.
“kamu bakalan kecewa kalau kamu tetap mencari surat itu”
Kata sang ibu dengan mata berkaca-kaca, menyiratkan sesuatu yang dalam telah ia sampaikan pada anak semata wayangnya itu.

Namun Dewi tak peduli larangan sang ibu, dia tetap pergi ke kantor pos untuk mencari surat tersebut, dengan penuh rasa penasaran dia bertanya pada petugas kantor pos tentang surat tersebut, namun hasilnya nihil, tak ada surat dari sang ayah untuknya, lalu dia menanyakan tentang petugas pos yang biasanya datang mengantarkan surat tersebut yang baru dia sadari ternyata dia tidak pernah tau siapa namanya setelah 24 tahun lelaki mengantarkan surat untuk dirinya.
“dia itu namanya pak yudi, tinggalnya di daerah kebayoran lama, ini alamatanya mba, mungkin dia tau tentang surat mba”

Menyusuri khawasan kebayoran lama yang padat penduduk, Dewi dan Rama merasa prihatin dengan kehidupan sang pembawa pesan tersebut yang telah mengabdi berpuluh-puluh tahun, namun kehidupannya kehidupannya tak sepadan dengan pengabdiannya.Kini Dewi dan Rama tiba di sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk jalan dua orang dewasa, Jalan tersebut kini tengah di penuhi para pelayat, bendera kuning pun berkibar di ujung gang, suasana duka begitu kental menyelimuti kawasan padat penduduk tersebut.Dewi dan Rama pun kebingungan dengan apa yang tengah terjadi disini, begitu mereka sampai di keramaian Dewi tersentak melihat foto yang sama seperti yang ada dirumah nenek dibandung setahun yang lalu, segera ia menerobos ke dalam keramaian para pelayat, kini dia tau persis siapa yang ada di foto tersebut.

Sang pembawa pesan tengah terbujur kaku dipembaringannya yang terakhir, ditutup kain batik dan beralasankan tikar daun pandan, ruangan riuh oleh lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh para pelayat.Tiba-tiba seorang nenek merangkul tubuh dewi yang tengah terduntuk haru berlinang air mata, nenek yang sama dengan yang ada di bandung, nenek yang sama yang mempunyai foto pria berseragam Pos Indonesia dengan senyum hangatnya.

“ini surat ke 24 untukmu Dewi, ini surat yang terakhir yang ayahmu tulis untukmu, karna kini ia tengah kau tangisi”

Mata Dewi yang tengah menyucurkan air mata tiba-tiba terbelaklak tanpa segan menatap sang nenek.

“aku nenekmu”





Oke itu tadi cerpen gw yang gw masukin di dalam buku Anthology cerpen gw dan temen-temen penulis lainnya, semoga yang kemarin beli masuk surga dan yang minjem semoga Allah memberikan rezeki yang lebih biar bisa beli bukunya hehehe.

Oke, gw mau lanjut kerja lagi deh ya, ngejar Deadline hahaha....
See next time folks........
:)



Sabtu, 14 Juli 2012

PROMOOOOOOO..........

Hi guys !!
Apa kabar nih semua??
Gw mau promo nih, jadi sekarang gw tinggal di Studio Recording Sepupu gw namanya Thian
Jadi bagi kalian yg punya bakat musik dan mau Recording bisa hubungin gw atau langsung ke Thian.

Oke I present to you
KARA HOME RECORD

Alamat
Komplek Deplu Caraka Buana, Blok L. 19 Ciledug, Indonesia


Our equipment..

hardware:
- Audio Converter : Echo Mona
- Pre Amp : - behringer ADA 8000
- behringer Sonic Exciter
- mixer : Mackie
- drum : Isuzu
- speaker : ESI near05
- mic : Behringer B-2, samson for drum kit
- keyboard : M audi0 keyrig49
- bass : Ibanez sdgr
- gitar : Gybson

Software:
- Recording and mixing : Nuendo, Cubase, Reason, fruityloop
- Mastering : Wavelab
- Plugin : bfd, addictive drum, hypersonic, guitar rig, amplitube, Ampeg...and many more......

Price: per lagu (noshift) = 350 rb

more info : 087881301411 / 02198916679

pin bb : 30CB9F3D
ini beberapa foto studio












dan ini dia sepupu gw sekaligus operator rekamannya





Oke segitu dulu promonya,jangan lupa follow twitter gw sama thian jg ya di @Ariezamuzaki dan @tianbije
yg minat tinggal telp,kirim E-mail, atau langsung mention gw atau thian aja ya.

See yaa guys....... :)


Selasa, 19 Juni 2012

Kepompong dan Kupu-kupu Cinta... OUT NOW!!

Haiiiiiii Guys!! :)

Buku Anthology Cerpen gw udah keluar nih!! i'm so excited for that :)
Dipostingan sebelumnya gw udah pernah cerita kalo gw lagi ngerjain satu project Anthology cerpen bareng temen-temen gw, dan sekarang bukunya udah keluar ditoko-toko buku terdekat dan bisa kalian nikmati :)

Dibuku ini gw menulis satu cerpen berjudul 'Pembawa Pesan'

Dan ini Spesifikasinya


Judul : Kepompong dan Kupu-kupu Cinta
Penulis : Arieza Muzaki, dkk
ISBN : 978-602-18430-0-0
Penerbit : Pustaka Jingga
Tebal : 155 hlm
Harga : 31.000

Sinopsis :
Cinta dan persahabatan itu seperti kepompong dan kupu-kupu,
ia mengalami metamorfosa atau perubahan.

Ku ingin cinta dan persahabatan kita seperti kepompong yang selalu tumbuh dan berkembang menjadi kupu-kupu yang indah.

Kepompong selalu hinggap di mana saja dan kupu-kupu selalu menghiasi bunga, layaknya dunia ini yang tak pernah luput dari cinta dan persahabatan.

Aku dan kamu...
Kita kepompong dan kupu-kupu cinta.
Bermetamorfosa ke arah yang lebih baik
Untuk selamanya...


Buku ini sudah bisa dipesan melalui sms ke 0856 4545 9192 dengan format pesan KKC#nama lengkap#alamat lengkap#jumlah buku#no tlpn
Pesan 1, 2, 3 atau 4 buku ongkir tetap. Order yuk!

Wujud bukunya  Seperti ini






 
 Okay Guys selamat menikmati karya gw dan teman-teman gw ya.....
Ditunggu comment'y ya guys.... :)


Selasa, 29 Mei 2012

FINALLY LAGI

Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........
Akhirnya setelah gw nunggu-nunggu selama hidup gw pun akan menulis untuk sebuah buku, ya walau cuma Antologi Cerpen tapi gw sangant bangga bisa menulis untuk sebuah buku komersial.
Tapi sorry gw belum bisa kasih info tentang project tulisan gw ini, nanti kalo udah ada perkembangan kabar dari  penerbit baru gw bisa share ke kalian tentang buku itu.

yak, gw gak sabar pengen tau gimana jadinya buku gw nanti, tinggal ditunggu aja ya guys, doa'n aja supaya buku gw gak dibakar masa hehe.....

see you on next session guys :)

Rabu, 16 Mei 2012

A POETRY BY DEWI APRIANI ALWI

Desau angin meriuh
membelai dedaunan yang lelap
kibar-kibar sayap malam 
membimbing rindu cakrawala pada sang laut

Memeluk mimpi yang hanya cinta yang mampu rasakan
seperti senja yang mengendap diujung langit
yang enggan mengulang kesangsian sang mentari
yang terbelenggu sepi

Kini habis sudah perkara
risau yang mereka punya
karena sang pijaran detak waktu
telah menggenapkan asa yang terapung diudara


DIA ITU KAMU

Dia datang sehalus angin
selembut air
menyibak tirai sepi yang berwarna usang 
mengetuk dinding yang berpoles kelam
menyesakan sesuatu yang terasa asing bagiku
yang semula ku benci sendiri tanpa asa
yang kian hari meriak minta merdeka
yang semula kuanggap mati terpanggang sepi
hilang ditelan luka yang terus menganga
seperti tabir yang seakan menyihir kebangkitan mati

Tapi kali ini tuhan meminta takdir meralatnya
memintaku untuk memenuhi takdirku
membuat lelahku seakan sirna menepi
apa lagi yang mampu kuhindari kini?
semua telah jelas dan begitu nyata
seribu genderang pun kini terasa menyesakan telinga
sepertinya aku kembali menjadi manusia
atau aku yang selama ini menolak untuk menyadari
mengapa rasanya seribu ketakutan itu sirna entah kemana perginya??
jejaknya yang tak merona

Ya, mungkin ini saatnya aku mulai takdir baruku
memulai lagi menyusuri persimpangan-persimpangan lain
yang mungkin menjanjikan pelangi disudutnya
aku tak tahu pasti
hanya hati yang mampu pergi
kepada takdir yang menarikku bangkit.


DEWI APRIANI ALWI