Rabu, 16 Mei 2012

A POETRY BY DEWI APRIANI ALWI

Desau angin meriuh
membelai dedaunan yang lelap
kibar-kibar sayap malam 
membimbing rindu cakrawala pada sang laut

Memeluk mimpi yang hanya cinta yang mampu rasakan
seperti senja yang mengendap diujung langit
yang enggan mengulang kesangsian sang mentari
yang terbelenggu sepi

Kini habis sudah perkara
risau yang mereka punya
karena sang pijaran detak waktu
telah menggenapkan asa yang terapung diudara


DIA ITU KAMU

Dia datang sehalus angin
selembut air
menyibak tirai sepi yang berwarna usang 
mengetuk dinding yang berpoles kelam
menyesakan sesuatu yang terasa asing bagiku
yang semula ku benci sendiri tanpa asa
yang kian hari meriak minta merdeka
yang semula kuanggap mati terpanggang sepi
hilang ditelan luka yang terus menganga
seperti tabir yang seakan menyihir kebangkitan mati

Tapi kali ini tuhan meminta takdir meralatnya
memintaku untuk memenuhi takdirku
membuat lelahku seakan sirna menepi
apa lagi yang mampu kuhindari kini?
semua telah jelas dan begitu nyata
seribu genderang pun kini terasa menyesakan telinga
sepertinya aku kembali menjadi manusia
atau aku yang selama ini menolak untuk menyadari
mengapa rasanya seribu ketakutan itu sirna entah kemana perginya??
jejaknya yang tak merona

Ya, mungkin ini saatnya aku mulai takdir baruku
memulai lagi menyusuri persimpangan-persimpangan lain
yang mungkin menjanjikan pelangi disudutnya
aku tak tahu pasti
hanya hati yang mampu pergi
kepada takdir yang menarikku bangkit.


DEWI APRIANI ALWI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar